input license here

Sinopsis Film Istirahatlah Kata-Kata (2016)

Sinopsis film Istirahatlah Kata-Kata (2016)

Judul
Istirahatlah Kata-Kata

Tayang

19 Januari 2017

Durasi

1 jam 37 menit

Sutradara

Yosep Anggi Noen

Pemain

Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Eduward Manalu

Genre

Petualangan | Biografi | Drama | Keluarga | Sejarah

IMDb Rating

7,3/10 (209)

Trailer

YouTube


Sinopsis film Istirahatlah Kata-Kata (2016)

DbFilm.web.id - Film "Istirahatlah Kata-Kata" menceritakan tentang kehidupan Wiji Thukul, seorang penyair terkenal Indonesia dan juga aktivis Partai Rakyat Demokratik. Berbeda dengan film-film biografi atau dokumenter lainnya, Yosep Anggi Noen, sang penulis sekaligus sutradara, mengangkat sisi manusiawi Wiji yang selama ini terkesan luput di tengah kobaran semangat perlawanannya, dan juga menceritakan fase penting kehidupan Wiji dimana Wiji menjadi buronan Orde Baru dan harus menyelamatkan diri ke Pontianak, Kalimantan Barat.

Nama Wiji Thukul, tenar disebut sebagai penyair "bandel". Kata-kata yang ia rangkai dalam puisi gubahannya seperti kanon yang menembak tepat di jantung penguasa. Puisi-puisi ini yang membuat Wiji menjadi satu dari sekian banyak aktivis yang diburu di penghujung dekade 1990-an. Mendekati detik-detik reformasi, Wiji justru hilang tak tentu rimbanya hingga kini.

Di film "Istirahatlah Kata-Kata", ketakutan dan kecemasan tampak menyelimuti Wiji (diperankan oleh Gunawan Maryanto). Rasa cemas dan takut yang dirasakan Wiji tidak digambarkan secara gamblang, tetapi hanya dengan simbol atau gerakan yang menggambarkan perasaan tersebut. Misalnya, saat Wiji bertemu dengan seorang tentara di tempat cukur, ekspresi ketakutan Wiji cukup digambarkan lewat diam dan kepala yang terus menunduk.

Alur cerita yang lambat dan adegan yang didominasi dengan latar gelap benar-benar menciptakan suasana sunyi dan kesendirian yang dirasakan Wiji selama menjadi buronan. Kesunyian yang tidak hanya disebabkan oleh ketidakpastian diri, tetapi juga kerinduan pada anak dan istri yang terpaksa ditinggalkannya di kampung halaman.

Di film ini, kecemasan dan ketakutan tidak melulu milik Wiji. Sipon (Marissa Anita), istri Wiji, juga tak kalah berat menanggung beban. Selain harus menghadapi "kunjungan" rutin aparat ke rumahnya, dia juga harus memberi pengertian kepada putrinya, Fitri (Putri Fathiya Hany Nurrohman) yang masih kecil, dan mengurus si bungsu, Fajar (Franco Christo).

Hingga di akhir cerita, Wiji memberanikan diri untuk kembali ke rumahnya. Mengalahkan rasa takutnya demi melampiaskan kerinduannya. Namun, teror tak berhenti sampai di situ. Teror yang bukan membuatnya menyerah, tetapi malah membuat darah perlawanannya semakin panas. Seperti bait dalam puisi "Habis Cemasku" yang ia gubah di masa pelariannya.

"Habis cemasku kau gilas. Habis takutku kau tindas. Kini padaku tinggal tenaga mendidih!"

Helmi Fauziridwan
Aku adalah seorang blogger dari Bandung, Indonesia, yang ingin berbagi inspirasi dengan sobat-sobat di seluruh dunia.
SHARE

Related Posts

Related Posts

Subscribe to get free updates

Posting Komentar